Sabtu, 15 Oktober 2011

Cerpen

Dibalik Hati Seorang Anak
            Aku Wisnu umurku 15 tahun. Aku duduk dikelas 3 SMP. Aku hidup ditengah keluarga sederhana yang bahagia. Aku memiliki 2 orang kakak. Mereka berdua sedang meneruskan sekolah di Bandung. Tapi kini keadaan sudah berubah, disaat aku duduk dikelas 2 SMP. Kejadian itu bermula saat ayahku kerja dinas di Surabaya. Ternyata disana ayahku memeiliki teman wanita lain. Hal itu diketahui ibuku saat ayah pulang ke rumah. Ibuku membuka kotak masuk telepon genggam ayahku, lalu ibuku melihat pesan dari wanita itu. Pesan itu bukan seperti pesan kepada teman biasa, tapi lebih dari itu. Mulai saat itu ibuku curiga dengan ayahku. Lalu ibuku bertanya pada ayahku, “Pesan dari siapa ini?”, ujar ibuku. Namun ayahku membalasnya dengan nada marah, “itu hanya temanku.” Disinilah titik konflik mulai terjadi.
            Semenjak saat itu ayahku menjadi sangat temperamental. Ibuku selalu dimarahi ayahku setiap ibuku bertanya tentang perempuan itu. Tapi menurutku perbuatan ibuku benar memang siapa sih yang tidak curiga jika suaminya memiliki teman wanita yang semesra itu? Tapi ayahku tetap saja begitu setiap ibuku mempertanyakan hal itu.
            Disaat mereka bertengkar ingin hati melerainya tapi apa daya aku hanyalah anak kecil yang mungkin masih bias dibilang Bau Kencur. Tapi sungguh disetiap orang tuaku bertengkar hati terasa sakit bahkan terkadang aku menangis karena hal itu.
            Setelah ada beberapa kali pertengkaran, akhirnya ibuku memberanikan diri menelepon wanita itu dengan telepon genggamnya, untuk menyelesaikan masalah. Ibuku hanya memiliki tujuan ingin tahu siapa wanita itu sebenarnya. Setelah tersambung ibuku bertanya pada wanita itu kamu siapanya kakak saya? Karena saat itu ibuku sedang berpura-pura menjadi adik dari ayahku. Tapi jawaban yang diterima sama seperti jawaban ayahku yaitu hanya teman biasa. Kecurigaan ibuku telah hilang setelah mendengar jawaban itu.
            Beberapa hari kemudian ayahku menelepon ibuku dan memaki-maki ibuku. Ternyata wanita itu mengadu kepada ayahku. Aku sedikit mendengar percakapan ayah dengan ibuku. Saat mendengarnya hatiku sangatlah kesal karena kata-kata yang keluar dari ayahku.
            Sebulan kemudian ayahku pulang kerumah. Tapi hal yang tidak diinginkan terjadi lagi namun lebih parah. Ibuku dianiaya oleh ayahku. Aku tidak melihat kejadian itu karena saat itu aku sedang bersekolah. Setelah pulang sekolah ibu menceritakannya kepadaku. Disaat itu pula aku tidak habis pikir mengapa ayahku bisa melakukan hal yang tidak bermoral itu. Namun aku hanya bisa diam akan kejadian itu karena hal itu adalah urusan mereka bukan urusan anak-anak sepertiku. Lalu tiga hari kemudian ayahku pergi untuk kerja dinas kembali.
            Tiga bulan telah berlalu. Dibenakku terpikir mungkin sudah tidak ada pertengkaran lagi. Tapi hal yang terjadi sangat bertolak belakang dengan benakku. Saat ayahku pulan ke rumah ayahku berpikir bahwa ibuku selingkuh dengan laki-laki lain. Padahal hal itu tidak sama sekali dilakukan ibuku. Ayahku sekejap terbakar kemarahan dan menganiaya ibuku lagi untuk yang kedua kali. Hatiku sangat terpukul bahkan aku pun menangis mendengar hal itu. Disaat itulah aku benar-benar membenci ayahku.
            Lagi dan lagi hal itu terjadi lagi selang dua bula dari penganiayaan untuk yang kedua kalinya. Dengan permasalahan yang sama Ayanhku berperasangka  bahwa ibuku selingkuh dengan laki-laki lain. Ibuku dianiaya lagi untuk ketiga kalinya. Disaat itu aku tidak bias diam. Aku marah kepada ayahku. Dan aku balas memaki-makinya. Memang tidak sepantasnya aku melakukan hal itu. Tapi perbuatan ayahku sudah keterlaluan.
            Setelah kejadian itu ibuku menelepon kakek dan nenekku di kampong. Ibuku berkata, “mah, maafkan aku. Aku tidak bias menjalankan pernikahan dengan baik. Lalu ibuku bercerita semua hal yang terjadi kepada ibuku kepada nenekku. Dissat aku mendengar percakapan antara mereka aku menangis menahan sakit hatiku.
            Setelah semua kejadian itu usai, Ibuku menggugat cerai ayahku karena kejadian yang lalu.  Aku membaca surat gugatan itu sungguh hatiku remuk, hancur tak karuan. Walupun aku sangat benci dengan ayahku tetapi disisi lain aku juga menyayanginya. Tapi apa boleh buat itu sudah keputusan mereka. Kami para ank tidak bias berbuat apa-apa lagi untuk mempersatukan mereka kembali. Namun aku memiliki pesan untuk para orang tua jangan pernah kalian memikirkan diri kalian sendiri tapi pikirkanlah anak-anak kalian. Walaupun masih anak-anak tapi mereka pun memiliki hati dan perasaan yang lebih sensitive dibandingkan para orang tua.  

           
           Percintaan Remaja
            Remaja zaman sekarang ternyata sudah mengenal cinta. Bajkan anak-anak pun sekarang sudah mengenal cinta. Dahulu aku belum mengerti tentang cinta. Dahulu dipikiranku cinta itu menyakitkan dan sering membuat orang lain frustasi karena cinta. Tetapi semenjak aku duduk di kelas dua SMP aku mulai mengerti tentang cinta. Ternyata cinta itu indah dan tidak seperti yang kubayangkan dahulu.
            Saat aku kelas dua SMP aku mulai tertarik untuk berpacaran. Aku tertarik pada adik kelasku. Perempuan itu cantik, manis, baik, ramah, dan pandai. Maka itu aku tertarik padanya. Setelah aku pendekatan kepadanya, ternyata dia meresponnya dengan baik. Aku semakin mendekatinya dan sering sms-an dengannya. Hari demi hari telah berlalu dan kedekatan ku dengannya pun semakin dekat. Akhirnya suatu malam aku memberanikan diri untuk menyatakan cintaku via sms. Saat mengirim pesan itu aku sangat pesimis karena aku tahu aku masih banyak kekurangan. Dalam benakku aku tahu dia akan menjawab menolakku. Tapi ternyata dia membalasnya “Ya ka, aku terima.” Disaat itu hatiku senang sekali.
            Keesokan harinya aku bertemu dia disekolah. Saat melihatnya sungguh aku tersipu malu. Mungkin karena aku baru pertama kali pacaran. Hubunganku berjalan dengan baik. Kami berdua saling mengerti satu sama lain. Disaat itu aku lebih menyayanginya.
            Hari demi hari berganti hubungan kami semakin dekat. Bahkan kami  pun sudah tidak mengungkiri hubungan kami lagi kepada teman-teman kami.
            Saat dekat dengannya sungguh hatiku merasa tenang. Aku berharap hubungan ini akan langgeng mungkin hingga kami menikah. Namanya juga pertama kali pacaran pikirannya ya pasti seperti itu.
            Namun sayang baru satu bulan berpacaran kami sudah putus. Yang memutuskannya pacarku. Dia memutuskan aku karena aku cuek kepadanya. Ya, mau bagaiman lagi itu sudah keputusannya.
            Setelah putus aku memutuskan tidak akan pacaran lagi. Karena aku takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti teman-temanku. Mereka berpacaran hingga melanggar batas. Hampir semua teman-temanku sudah pernah berciuman dengan pacar mereka masing-masing. Bahkan ada satu temanku yang sudah hamil karena pacarnya. Temanku langsung meminta pertanggung jawaban kepada pacarnya. Namun orang tua pacarnya berkata “Tunggu tiga tahun lagi sampai anak saya lulus SMA.” Namun tidak mau menunggu selama itu. Perutnya semakin membesar dan dia mulai malu dengan kehamilannya. Akhirnya dia menggugurkan kandungan itu. Itulah mengapa aku memutuskan tidak ingin berpacaran lagi.
            Hari demi hari kulewati sendiri tanpa ada yang menemani. Ya begitulah rasanya tidak memiliki pacar tapi aku beruntung karena aku masih punya teman-teman. Bagiku teman itu lebih berarti dari pada pacar.
            Kenaikan kelas telah tiba. Saat menunggu hasil kenaikan kelas  tiba aku berpikir apakah aku akan naik ke kelas tiga. Tapi aku berpikir optimis pasti aku naik. Setelah melihat hasilnya aku senang karena aku naik ke kelas tiga dengan peringkat kedua di kelas.
            Saat masuk di kelas tiga aku memiliki teman-teman baru dan pasti memiliki pengalaman baru. Aku pun bertemu dengan teman baruku Sarah dan Nur. Aku menjalani hariku dengan mereka. Mereka adalah teman yang baik. Mereka sangat pengertian kepadaku. Akhirnya kami menjalin persahabatan kami.
            Satu bulan sudah kulewati hariku di sekolah dengan mereka. Namun aku bingung ada suatu perasaan sayang kepada Sarah yang lebih dari sayang kepada seorang sahabat. Tapi aku berfikir seandainya aku mengatakan perasaan itu aku takut Sarah akan mejauh dariku.
            Dua minggu sudah aku menahan perasaan ini. Akhirnya aku memberanikan diri mengatakan perasaanku ini kepadanya. Tapi aku tidak mau menembaknya. Aku berkata “Sar, aku sayang sama kamu. Aku tidak tahu mengapa perasaan sayang ini datang.” Dia menjawab “Ya sudah aku hargai perasaanmu karena semua orang berhak untuk mencintai.”
            Setelah aku mengatakan  hal itu ternyata hal yang kutakuti tidak terjadi. Bahkan hal yang terjadi adalah kebalikannya Sarah semakin dekat denganku hingga saat ini.
            Tiga bulan sudah aku di kelas tiga. Aku dan Sarah pun semakin dekat. Perasaan sayangku kini sudah menjadi cinta. Namun aku menahannya karena aku ingin menjadi sahaba saja. Disaat libur aku, Sarah dan teman-teman pergi untuk menonton bioskop. Aku duduk disebelah Sarah. Kami menonton film horror. Disaat Sarah takut ia memelukku aku pun terkejut. Tapi tak apalah aku kan sahabatnya. Setelah menonton film kami langsung pulang. Tapi saat diperjalanan pulang perasaan cintaku kepada Sarah semakin besar.
            Dimalam hari perasaan itu masih mengusikku. Akhirnya aku mengirim pesan padanya yang berisi “Sar, setiap dekat denganmu aku merasa tenang. Dan semakin hari aku semakin sayang padamu.” Lalu dia membalas “Nu, I know. W tau kok. Gue hargain perasaan lo. Yaudah dari pada kaya gini mending kita HTS-an aja.” Disaat membaca pesan itu hatiku terkejut, senang, tidak menyangka dan lain-lain bercampur jadi satu. Walupun hanya HTS (Hubungan Tanpa Status) tak apalah yang penting aku bisa lebih dekat dengannya.